57GSGOUiym0RjqT60gh80ahb2hanHpOxHlTDFWHw
Bookmark

Cerpen: Dering yang Ditunggu

"Gimana, Mas? Sudah ada yang masuk order-annya sampe siang ini?" tanya istriku. Wanita yang kunikahi sejak 2012. Dia sedang menemani anakku yang baru berumur 5 tahun mengerjakan tugas rumahnya. Duduk lesehan beralaskan karpet kusam di ruang keluarga sembari mengarahkan anakku untuk belajar dan mengerjakan tugas rumah yang telah di sediakan sekolah.

"Belum. Sepi dari pagi, belum ada sama sekali," balasku atas pertanyaan itu. Aku masuk ke ruang keluarga, melepaskan jaket hijau muda yang biasanya selalu kupakai seharian untuk bekerja. Meletakkan jaket itu di atas kursi kemudian aku duduk di sebelahnya dan mencoba beristirahat sejenak.

"Capek, Mas?" tanyanya lagi, mencoba membuka obrolan. "Tadi di pangkalan rame ga?"

"Iya, rame yang ngumpul di sana, pada ngobrol karena order-an yang sepi. Ada yang cerita dia ga punya duit buat bayar utang pinjaman, ga ada duit buat makan, banyak banget ceritanya," ceritaku. Aku ikut juga menemani anak yang sedang belajar. "Pusing juga sih dengan kondisi sekarang ini. Order-an sepi, pemasukkan ga ada, pengeluaran jalan terus, hari-hari butuh makan dan sebagainya. Ya semoga aja cepat selesai, biar segera seperti dulu," keluhku.

"Amin.... Mas, ngomong-ngomong, Mas udah makan? Kalo belum, ke dapur saja. Aku udah masak, makan dulu gitu, Mas," tawar istriku.

"Iya, belum makan. Mas makan dulu ya?! Kamu udah makan?" tanyaku balik. Berjalan ke arah dapur untuk makan siang.

"Udah Mas, bareng Ari. Tinggal Mas aja yang belum makan."

"Oh, ya sudah. Mas makan dulu," kataku. Tetapi tiba-tiba ponselku berdering Blub. Suara notifikasi berupa gelembung pecah diikuti getaran ponsel yang kuletakkan di saku celana. Kuambil ponsel itu, mengaktifkannya. Kulihat notifikasinya, ternyata aku memperoleh order-an, order makanan. Saat itu juga kuputuskan untuk menerima order-an tersebut. Berkata ke istriku.

"Mas dapat order-an nih. Makanan. Mas berangkat, ya!" kataku. Berbalik ke ruang keluarga, membatalkan niatku untuk makan siang.

"Loh, Mas, ga makan dulu? Kan belum makan dari pagi. Makan dulu aja, kasi tau customer-nya untuk nunggu sebentar aja. Bilangin kalau Mas lagi makan, belum makan dari pagi," kata istriku setelah mendengar ucapanku. Menunjukkan wajahnya yang khawatir ke suami yang belum makan sedari pagi.

"Iya, ga apa-apa. Mumpung dapat order-an. Kalau Mas tunda, nanti malah di-cancel customer-nya. Takutnya nanti ga dapat lagi order-an," jawabku mencoba meyakinkan istri. "Kalau udah selesai, mas janji nanti langsung pulang, terus makan deh masakanmu. Yang penting ini mas terima dulu order-annya."

"Ya sudah kalau begitu, tapi setidaknya mas minum dan makan roti yang di meja. Buat mengganjal perut, biar ga sakit juga," pinta istriku yang khawatir.

"Iya deh, Mas bawa roti dan minumnya. Nanti di jalan Mas makan, Mas pamit dulu." Aku berpamitan dengan istriku. Memakai jaket hijauku yang sebelumnya kuletakkan di kursi dan berangkat kerja lagi bersama sepeda motorku. Sepeda motor yang selalu menemaniku ke sana kemari di jalan raya ibukota.

Aku pun pergi ke rumah makan sesuai order-an customer. Di perjalanan, kusempatkan untuk berhenti sebentar, menyantap roti yang kubawa dari rumah. Setibanya di rumah makan tersebut, aku pun memarkirkan teman perjalananku itu. Di sana tempat parkirnya luas, bangunan rumah makannya juga besar, punya dua lantai. Dalam benakku, aku berpikir kalau ini pasti rumah makan mewah. Itu karena terlihat jelas dari bagusnya bangunan rumah makan itu. Dinding kacanya yang bersih yang memperlihatkan isi rumah makan. Tempat parkir yang luas. Pelayan yang jumlahnya cukup banyak dan berseragam. Ruangan ber-AC. Meja dan perabot yang terbuat dari kayu, yang aku pikir itu mungkin kayu jati. Hingga hiasan rumah makan yang aku ga tau itu apa sebenarnya. Sangat mewah menurutku, terutama untuk orang sepertiku yang biasanya hanya makan di warung tegal (warteg) di pinggir jalan.

Aku pun masuk ke rumah makan itu. Pergi menuju meja kasir untuk memesan makanan sesuai permintaan customer di aplikasi. Pelayanannya sangat baik, kasirnya bahkan menawarkanku minum dan kursi untuk duduk sembari menunggu makanan yang aku pesan disiapkan. Aku menunggu kurang lebih 15 menit. Pesananku akhirnya sudah siap, dibungkus dengan rapi di dalam semacam boks. Sungguh mewah dan bagus rumah makan ini. Ingin juga rasanya suatu saat nanti aku, istriku dan anakku makan di rumah makan mewah seperti ini. Tapi pasti harganya sangat mahal. Aku penasaran, ingin tahu harga makanan di rumah makan ini. Aku pun memutuskan untuk melihat nominal pesanan di nota. Sewaktu kulihat angkanya, di dalam benakku berkata.

Baca juga: Cerpen: Setelah Hidup

Buset, mahalnya. Hanya untuk satu porsi makanan harus membayar 65 ribu, itu pun sudah yang termurah di nota ini. Di sini si customer pesannya 4 porsi. Bahkan ada yang harganya 82 ribu. Gila, kalo di hitung totalnya bisa dipake buat makan seminggu. Yang mesan pasti orang kaya, hanya orang kaya yang makan di sini. Jadi mimpi aja deh kayaknya buat ngajak istri dan anak untuk makan di rumah makan begini.

Aku pun berangkat lagi. Mengantarkan makanan mewah yang sudah di pesan ke lokasi customer. Alamatnya itu ada di semacam daerah perkantoran. Aku pun tiba di lokasi. Menelepon customer memintanya menemuiku di lobi sebuah bangunan bertingkat. Aku pun menunggu si customer untuk datang menghampiriku mengambil pesanannya. Di sana, ada seorang satpam yang sedang berjaga. Aku memutuskan memulai obrolan dengan satpam itu sembari menunggu.

"Siang, pak. Mau tanya, ini sebenarnya bangunan apa ya? Kantor kan ya? Bertingkat begini," tanyaku.

"Siang, mas. Emm, ini sih kos-kosan, mas," jawab satpam itu.

"Lah, kos-kosan, pak? Mewah banget ya untuk ukuran kos-kosan," timpaku.

"Iya, mas. Karena lokasinya di area perkantoran dan kebanyakan penghuni di sini itu para pekerja kantor atau bahkan bos-bos yang baru memulai usaha di sini. Makanya dibikin seperti ini kos-kosannya," kata satpam itu. Dia membuka pintu dan menyapa pengunjung yang masuk atau penghuni bangunan yang baru pulang.

"Oh, pantesan. Kalau boleh tau harga sewanya berapaan, pak?" tanyaku lagi.

"Sekitaran 5 hingga 7 juta sebulan, mas. Tergantung fasilitas kamarnya. Semua bangunan kos di area sekitar sini juga sama harganya, mirip-mirip."

Mendengar jawaban si satpam, lagi-lagi aku di dalam benakku berkata.

Gila, seharga uang sewa kontrakanku setahun, tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku dari arah lift.

"Mas Ikhsan," serunya. Customer yang memesan makanan padaku.

"Oh, iya. Saya pak," menjawab panggilan si customer. Aku pergi ke arahnya. Menyerahkan makanan pesanannya.

"Siang, mas," sapanya. "Ini makanan aku pesan 4 porsi. Satunya buat mas. Mas bawa, buat mas makan sendiri atau dibagi dengan keluarga atau teman, terserah mas saja. Saya udah bayar di aplikasi ya."

Aku kaget, jarang-jarang ada orang yang mau berbagi. Aku sendiri banyak mendengar cerita dari ojol-ojol lain tentang customer yang baik dan mau berbagi. Tetapi aku belum pernah mengalaminya sendiri. Baru kali ini.

"Beneran, ini pak?" tanyaku tidak percaya.

"Iya, beneran mas. Saya ambil tiga saja, satunya buat mas," balas dia.

"Terima kasih, ya pak. Terima kasih banyak. Saya doakan bapak diperlancar rezekinya. Sekali lagi terima kasih," ucapku kepadanya. Bersyukur dan berterima kasih kepadanya.

Aku pun berpisah dengan si bapak yang baik itu. Menerima pemberiannya dan meninggalkan bangunan kos-kosan yang mirip kantor tersebut. Hari ini awalnya kukira akan menjadi hari yang cukup sedih, dimulai dari tidak adanya order-an, tunggakan ini itu yang harus dibayarkan dan sebagainya. Tapi, entah kenapa setelah bertemu dengan si bapak, suasana hatiku berubah. Senang rasanya bertemu dengan orang baik di luar sana, seperti yang diceritakan teman-teman ojol lainnya.

Aku akhirnya pulang ke rumah dengan membawa makanan pemberian si bapak. Tiba di rumah, aku bercerita ke istri kalau aku bertemu customer yang baik sekali orangnya. Menceritakan kisahku saat menerima order makanan hari itu. Aku pun menunjukkan makanan pemberian si bapak itu ke istriku. Mendengar ceritaku, istriku penasaran. Seperti apa sih makanan dari rumah makan mewah. Sama sepertinya, aku juga penasaran. Kami berdua membuka makanan itu, ternyata isinya hanya beberapa potong ayam yang dimasak dengan bumbu entah apa namanya. Istriku berkata padaku.

"Mas, ini makanannya kita simpan di kulkas dulu ya?! Buat makan malam saja, kita makan bersama. Untuk sekarang, seperti janji mas. Mas makan masakanku yang sudah siap dari tadi di dapur."

"Siap. Laksanakan Bu Komandan," kataku ke istri, bercanda dan mengiyakan saran istriku. Aku mengulangi kejadian sebelumnya, bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk makan. Saat makan, aku sempat berpikir.

Hari ini ga seburuk yang kupikirkan ternyata. Kukira ga akan ada order yang masuk, tetapi ternyata ada dan si bapak yang memesan juga sangat baik. Beruntung banget hari ini. Semoga aja, besok-besok bisa seperti ini lagi. Dan sepertinya keinginanku terkabul ya... Bisa makan makanan mewah bareng istri dan anak. Walaupun tidak persis sama dengan yang ku harapkan, setidaknya ini menjadi awal. Syukur banget, Tuhan memang baik. Selalu ada saja jalan dan rencana baik yang dibuat-Nya

Dan untuk si bapak yang membuat hariku menjadi baik, 'Terima kasih ya.'

Baca juga: Cerpen: Bersabar dan Lihatlah (1)

Posting Komentar

Posting Komentar