57GSGOUiym0RjqT60gh80ahb2hanHpOxHlTDFWHw
Bookmark

Review Novel Gending Pencabut Nyawa

Blurb dan Sinopsis Novel Gending Pencabut Nyawa

Perbincangan ini sudah sering terdengar di antara penduduk Desa Windualit. Mereka seakan terpenjara di desa terkutuk itu, Tidak ada tempat bersembunyi dan menghindari kutukan. Siapa pun yang mencoba kabur atau menyelamatkan penduduk desa akan ikut mati mengenaskan.

Danan datang dengan banyak kenangan pada Desa Windualit, tempat ia menemukan pujaan hatinya bertahun-tahun lalu. Ia ingin menyelamatkan desa gadis yang ia sayangi, meski bertaruh antara hidup dan mati. Sayangnya, wanita itulah yang merapalkan mantra kutukan pada desa dan penduduknya yang malang itu.

Danan terjebak pada persimpangan mengikuti perasaan atau membebaskan kutukan. Cinta dan kebenaran kadang tidak bisa berjalan beriringan. Sekeras apa pun Danang mencoba, ia tetap harus memilih mengikuti perasaannya atau menjadi penyelamat banyak jiwa.

Plot dan Jalan Cerita Novel Gending Pencabut Nyawa

Danan bersama teman-temannya dari mahasiswa pecinta alam sedang mendaki gunung. Namun, pendakian tersebut tidak semulus yang direncanakan. Danan mengalami kecelakaan, dia jatuh dari sebuah tebing.

Untungnya, Danan selamat meski mengalami luka-luka. Danan kemudian mencoba untuk kembali dan mencari teman-temannya, namun tidak kunjung berhasil. Danan tersesat.

Danan tersesat selama beberapa hari dan dia mencoba untuk kembali. Karena persediaan perbekalan telah habis, Danan akhirnya pingsan. Ketika sadar, Danan sudah berada di sebuah rumah.

Desa tersebut bernama Desa Windualit. Danan tinggal di sana untuk memulihkan diri dan nantinya berencana akan kembali. Namun, rencana Danan terbatalkan karena peristiwa tak terduga.

Seorang warga hilang. Setelah beberapa waktu pencarian oleh para penduduk desa, mereka menemukan warga yang hilang tersebut di hutan yang ada di pinggir desa dengan kondisi tidak bernyawa.

Danan yang merupakan tamu desa akhirnya mengetahui kalau desa tersebut dikutuk. Setiap malam bulan purnama sebuah kutukan akan bangkit untuk mencari korban. Para warga akan menutup pintu dan jendela rumah. Mengurung diri berharap kalau kutukan tersebut tidak mengincar mereka.

Korban kutukan akan selalu ditemukan di hutan pinggir desa dengan kondisi tidak bernyawa, terkadang luka-luka atau bahkan jasadnya sudah sulit untuk dikenali.

Kemudian, terjadi lagi. Ada seorang warga yang menjadi korban. Seorang gadis bernama Laksmi. Dan Danan jatuh hati pada Laksmi. Danan kemudian berusaha untuk menyelamatkan Laksmi.

Review dan Ulasan Novel Gending Pencabut Nyawa

Jadi, gini.... Asli kalau digarap dengan matang, seru banget novel ini.

Apakah gua menikmati ceritanya? Yessss....
Apakah tulisan dan ceritanya bagus? Emmmm Perlu banyak revisi deh kayaknya

Ceritanya seru loh.... Awalnya sih gitu.... Tapi, penulisan dan kelanjutan ceritanya itu... Wadidaw!

Gua suka desain sampulnya. Menyampaikan kengerian, kelam, misterius, dan kemarahan. Juga ilustrasi di dalam bukunya sangat bagus, bisa menggambarkan latar tempat, waktu, dan tokoh serta peristiwa yang sedang terjadi. Estetika bukunya cuakep.

Tokoh dan penokohan dan relasi tokoh super kurang dijelaskan. Kenapa si tokoh utama, Danan, bisa melihat makhluk halus dan punya kemampuan supranatural? Keturunan? Berkat Tuhan? Belajar? Kok bisa aji-ajian? Bisa dari mana? Berguru? Brakaraswana siapa? Jin? Dukun? Peristiwa penting seperti apa sampai disebut berkali-kali antara Danan dan Brakaraswana?

Tokoh yang udah mengucapkan dialog ingin melakukan sesuatu, seharunya nggak perlu dijelaskan ulang melalui narasi.

"Bu, aku pamit mencuci pakaian di sungai ya," pamit Sekar meminta izin mencuci pakai di sungai -> pamitku/ucap Sekar kepada ibunya yang sedang memasak tongseng, makanan kesukaanku (Contoh aja).

Jalan cerita, plot, dan konflik ceritanya seru. Gua akui seru, tapi malah berubah. Yang harusnya kisah perjuangan, kepahlawanan untuk menyelamatkan desa Windualit yang dikutuk malah menjadi kisah konflik kepentingan dua arwah penasaran dari masa lalu.

Ada kilas balik ke masa lalu, kisah Laksmi dan desa Windualit, tapi nggak dikulik. Ada penutup cerita, epilog, serta kisah romansa dan cinta Danan dengan Laksmi setelah peristiwa Desa Windualit. Romantis dan mengharukan sih, tapi gua nggak terlalu berempati karena interaksi Danan dan Laksmi minim, mendadak cinta dan romantis.

Review Novel Gending Pencabut Nyawa oleh Diosetta
Novel Gending Pencabut Nyawa oleh Diosetta (dok. pribadi Rio Odestila)

Perlu kisah Danan balik dari Windualit, bertemu temannya sesama pendaki, menjelaskan semuanya. Setelah kecelakaan di jurang dan kisahnya di Windualit. Kan aneh kalau tiba-tiba setelah selamat dari kecelakaan, berhasil balik. Tiba-tiba maju dan udah kerja di semacam radio. Kapan lulusnya? Nasib teman-teman yang terpisah waktu pendakian gimana?

Perlu kisah Brakaraswana. Flashback aja. Selalu disebut-sebut. "Bakal seperti kejadian Brakaraswana". Pembaca nggak tahu kejadian dengan si Brakaraswana seperti apa. Jadinya, nggak bisa sebagai pembanding dengan kejadian masa kini. Kejadiannya sulit kah? Berbahaya kah? Mematikan?

Perlu kisah antara Danan dan Laksmi. Jangan mendadak mesra-mesraan dong... Hei, kapan jatuh cintanya? Kedekatan dan pdkt-nya gimana? Saling lirik kek, Laksmi sering ngantar makanan sebagai alasan biar bisa ngobrol dengan Danan kek. Apalah gitu.

Protagonis siapa ya? Danan atau sosok Patih? Endingnya malah Danan menjadi peran pendukung si Patih yang duel. Nggak kebalik nih?

Wadidaw yang gua sebut di awal adalah.... Narasi dan deskripsi cerita. Gua yang baca terdistraksi berkali-kali oleh penulisan buku ini. Ngulang-ngulang, latar tempat yang nggak konsisten, dan susunan kalimat terbalik-balik.

Contoh aja
Paragraf 1: Sejak peristiwa gila itu. Setiap malam bulan purnama, sebelum maghrib para penduduk telah menutup pintu rumah masing-masing, bersembunyi dan berdoa berharap kutukan tersebut tidak mengincar mereka.
Paragraf 2: Sekar mengintip dari celah tirai rumahnya.
Paragraf 3: Kami berkumpul di mulut hutan dan berdoa.
Paragraf 4: Sekar bertanya pada Bu Retno yang hadir di sana.

Sekar ada di rumah ngintip? Atau ikut berkumpul di mulut hutan? Bukannya para penduduk desa mengurung diri di rumah setelah maghrib?

Novel yang terbit terburu-buru. Belum matang. 150 lebih halaman. MAKSA. Secara keseruan, novel ini lebih seru dari pada KKN di Desa Penari. Secara penulisan, KKN di Desa Penari lebih bagus. Rating untuk novel Gending Pencabut Nyawa:

3.5
Nyasar di desa yang banyak kecewanya

Baca juga: Review Buku Guru Besar Nusantara

Video Review dan Ulasan Novel Gending Pencabut Nyawa

Posting Komentar

Posting Komentar